Sebagai teori
yang hadir setelah teori normatif, teori akuntansi positif tidak luput dari
beberap kritik atas pendekatan yang digunakannya. Berikut beberapa peneliti
yang melakukan kritik dan dikelompokkan menjadi 3 kelompok (Januarti,
2004) yaitu : (1) kritik terhadap filosofi, positif menganut bahwa peneliti berada di
luar area penelitian serta memakasimalkan utilitynya. Hal ini tidak
mungkin terjadi karena peneliti selalu berada pada area yang ditelitinya dan
maksimalitas utility tidak mungkin dicapai hanya sebatas pada kepuasan (Simons
dalam Januarti, 2004). (2) kritik terhadap metodologi, teori positif
menganut pendekatan bahwa maksimalisasi keuntungan dapat diperoleh melalui
harga keseimbangan pasar. Hal ini tidak mungkin karena penelitian dengan harga
keseimbangan pasar sangat sedikit pengaruhnya terhadap kontribusi penelitian
akuntansi. (3) kritik terhadap penelitian dengan pendekatan ekonomi, yaitu
pemaksimalisasi individu yang tidak mungkin atau tidak mudah untuk
menghitungnya.
Kritik Graffikin (2006) dalam The
Critique of Accounting Theory.
Sebenarnya dari metode yang
dikeluarkan oleh Zimmerman dan Watts sudah cukup membuktikan kalau metode
akuntansi yang dikeluarkan oleh mereka berdua tidak selamanya berjalan sesuai
dengan harapan. Masih terdapat moral hazardyang dilakukan oleh para manajer
atas metode tersebut. Sehingga para manajer tersebut dapat memperkaya sendiri
dengan menggunakan celah dari metode akuntansi tersebut. Disini bisa kita
temukan sisi lain dari teori akuntansi bahwa ada unsur-unsur lain seperti
sosial yang tidak dimasukkan dalam teori ini. Sehingga akuntansi bisa
menggunakan nilai sosial dalam mengadopsi metode-metode akuntansi.
Pendapat serupa juga diberikan oleh Garfikkin (2006) bahwa dari pada
mencoba untuk menciptakan metode-metode ilmu alam yang pasti dan mutlak, lebih
tepat lagi jika akuntansi dialihkan ke metode yang mengakui aspek manusia
disiplin. Selain itu disebutkan juga bahwa
metode akuntansi yang dikembangkan hingga kini tidak melibatkan aspek
manusia sehingga dapat dilihat banyak celah dan kekurangan teori akuntansi
positif. Hal tersebut dimanfaatkan manager untuk memperkaya diri. Alasan lain
mengapa Grafikkin (2006) memasukkan unsure manusia dalam teori akuntansi
positif adalah agar hasil dari proses akuntansi tersebut dapat berguna bagi pemilik
perusahaan maupun manajer.
Teori
Akuntansi Positif dan Postmodern
Kritik di atas, membuktikan bahwa
terdapat kelemahan yang kemudian memungkinkan teori baru hadir dengan berbagai
macam pendekatan yang digunakan.
Salah satunya dengan menggunakan Postmodern
sebagai Pendekatan Alternatif dalam Akuntansi Postmodernisme
adalah faham yang berkembang setelah era modern dengan modernismenya.
Postmodernisme bukanlah faham tunggal sebuah teori, namun justru menghargai
teori-teori yang bertebaran dan sulit dicari titik temu yang tunggal.
(Sugiharto,1996) Postmodernisme tidak selalu menggantikan modernisme seluruhnya.
Sebaliknya, itu merupakan modifikasi modernisme (Koornhof & De Villiers De,
1999).
Komentar
Posting Komentar