Langsung ke konten utama

CASE STUDY TOM BRITISH AIRWAYS HITS TURBULENCE



CASE STUDY TOM
BRITISH AIRWAYS HITS TURBULENCE

I.                    COMPANY PROFILE
British Airways yang berpusat di Inggris merupakan maskapai penerbangan yang terbesar di Inggris dan dunia. Pusat operasi berada di Bandar Udara London Heathrow dan Gatwick serta beberapa bandar udara kecil seperti di Manchester dan Bandar udara Birmingham. British Airways memulai operasinya pada tahun 1919 yang bernama British Airways, Aircraft Transport dan Travel (AT & T)yang memiliki empat maskapai Britania - Instone, Handley Page, Daimler Airways (penerus AT&T), serta British Air Marine Navigation yang kemudian menjadi Imperial Airways. Maskapai ini melayani rute ke Australia dan Afrika. Tidak lama berselang didirikan juga maskapai penerbangan yang benama sama yaitu British Airways Ltd. Pada tahun 1939, pemerintah memerintahkan kedua perusahaan untuk bersatu dan menjadi British Overseas Airways Corporation (BOAC). Rute-rute ke Amerika Selatan dijalankan oleh British South American Airways (yang kemudian bergabung ke BOAC pada 1949) dan penerbangan domestik serta ke Eropa dijalankan oleh British European Airways (BEA), selain rute-rute tersebut, semuanya dijalankan oleh BOAC.    
Saat ini, BA telah merger dengan Iberia menjadi maskapai yang lebih kuat dan maskapai penerbangan terbesar ketiga di Eropa. Beberapa kelebihan setelah merger antara lain pemesanan menjadi lebih mudah, perjalanan menjadi lebih sederhana, meyediakan tujuan lainnya dari program afiliasi, tempat yang lebih nyaman, dan memiliki program frequent fliyer. Tidak hanya itu, BA juga memiliki memiliki corporate entertainment yang didalamnya berisi hiburan menarik berhubungan dengan penerbangan seperti flight simulator dan pelatihan safety awareness. Pelayanan bagasi dan pemeliharaan pesawat juga diperhatikan oleh BA antara lain memiliki program pelatihan “Airmanship” dan budaya kerja “Safety First”.

II.                  PERMASALAHAN
Pada tahun 1981, British Airways (BA) merupakan salah satu perusahaan penerbangan yang sangat bermasalah. British Airways mengalami kerugian sangat parah hingga 145 juta pounds. Selain itu, British Airways mengalami kegemukan struktur organisasi, kualitas yang buruk, dan hampir mendekati bangkrut. Salah satu yang menyebabkan permasalahan adalah maskapai penerbangan ini adalah menghindari semua biaya yang terjadi ditambhan dengan maskapai penerbangan ini terkenal dengan maskapai yang tidak tepat waktu di Eropa di mana Inggris merupakan salah satu negara yang menjunjung tinggi ketepatan waktu.
Pada tahun 1981 itu, John King ditunjuk sebagai Direktur untuk dapat memulai rencana bertahan dari kebangkrutan yang terkenal dengan Initiated Survival Plan. Tahapan pertama yang dilakukan salah satunya adalah mengrangi karyawan staff yang awalnya dari 52.000 pekerja menjadi 43.000 pekerja dan setelah itu terus berkurang hingga 35.000 pekerja. Pengurangan karyawan ini sebagian besar ditawarkan oleh King dengan menawarkan ke karyawan siapa saja yang ingin menjadi sukarelawan keluar dari perusahaan. Hasilnya, antara tahun 1981 hingga 1990, total transformasi yang terkenal dengan nama “bloody awful to bloody marvelous” mencatat keuntungan 245 juta Poundsterling pada tahun 1990.
British Airways mengarahkan usaha perubahannya dengan fokus terhadap layanan pelanggan. King dan Marshall juga meyatakan bahwa maskapai penerbangan ini berada pada “transportation business” dan tidak berorientasi pada pelanggan. Perubahan ini merespon perusahaan dengan mulai mengubah budaya organisasi, program pelatihan dengan motto “Putting People First” untuk semua staff yang berhubungan langsung dengan pelanggan.
Berdasarkan motto itu, perusahaan mulai melakukan pelatihan manajemen secara intensif untuk dapat mengawasi karyawannya di baris depan yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Akhirnya setiap karyawan harus melalui pelatihan “Putting People First” antara tahun 1983-1986. Tidak hanya itu, karyawan yang berada di tingkat manajer juga harus melalui pelatihan “Managing People First”. Dengan demikian, perusahaan merombak total sistem sumber daya manusia dengan membentuk kebijakan dalam merekrut, memberikan kompensasi, menilai, dan mempromosikan orang-orang yang didalamnya sesuai dengan strategi baru dan pelatihan yang dilakukan dan diterima karyawan.
Pada tahun 1996, Marshall naik jabatan sebagai komisaris dan Ayling ditunjuk sebagai CEO. Ayling memiliki tujuan dalam membangun British Airways yang telah suskes sebagai berikut:
1.       Mempertahankan British Airways sebagai “the world's favorite airline
2.       Terus meningkatkan pelayanan pelanggan dalam lingkungan yang semakin bnayak permintaan
3.       Memperluas jangkauan British Airways melalui aliansi dan perjanjian marketing.
4.       Meningkatkan lebih lanjut menajemen untuk menjadi lebih baik dengan menjadi perusahaan dengan tata kelola terbaik di Inggris pada tahun 2000.
Pada masa kepemimpinan Ayling ini, maskapai penerbangan ini menghasilkan beberapa catatan antara lain:
1.       Mencatatkan keuntungan 473 juta Pounsdterling dengan pembayaran bonus paling tinggi di tahun 1996.
2.       British Airways melakukan aliansi dengan Amirican Airlines yang memberikan dua pengendalian bersama operator penerbangan lebih dari 60% di penerbangan AS dan Inggris.
3.       Pada tanggal 6 September tahun 1996, perusahaan ini merencanakan bahwa diharapkan ada 5.000 sukarelawan dari karyawan untuk diminta meninggalkan British Airways dalam jangka waktu 18 bulan.
4.       Manajemen tingkat lebih tinggi fokus pada pembayaran yang ditangguhkan, pembayaran proses restrukturisasi, pegawai pesiun dini, dan memperkenalkan praktik promosi yang lebih efisien.
5.       Perusahaan memperkenalkan Business Efficiensy Plan (BEP) yang berdasarkan pada proyek kompetisi deregulasi.
Pada masa kepemimpinan Ayling, juga terdapat berbagai pengalaman yang bermasalah seperti berikut:
1.       Krisis ekonomi melanda Asia pada tahun 1997 di mana indusri penerbangan mengalami kegemukan kapasitas sehingga berdampak pada penurunan pendapatan
2.       Adanya ketidakpuasan pelanggan
3.       Pada tahun 1997, Ayling mulai lebih fokus pada keuntungan daripada manusia yang didalam perusahaan.
4.       Pada bulan Juni, sekitar 300 karyawa melakukan pemogokan dan 1.500 lainnya menuliskan izin sakit pada surat keterangan tidak masuknya. Hal ini mengganggu jadwal penerbangan British Airways untuk hari tersebut.
5.       Semangat kerja karyawan mulai turun di segala waktu.
6.       Tidak ada investor yang memberontak karena pada saat itu para pemegang saham terfragmentasi tau terpecah.
7.       Ayling berjanji pada staff karyawannya akan lebih peduli dan menyatakan bahwa orang-orang akan kembali masuk ke bagian atas agenda British Airways.
8.       Membuat datuan petugas yang fokus pada tugas tertentu yang disebut “the way forward
9.       British Airways mengumumkan rencana untuk membangun Hotel yang berharga 28 juta di Heathrow hanya untuk staff dan karyawan.
10.   Melakukan peluncuran kerangka kerja manajemen manusia yang baik dengan suatu pesan yang mendasari  yaitu “manage as you would like to be managed”.
Berdasarkan permasalahan di atas, British Airways mengalami kehilangan pada ketinggian yang mana permasalahan terus menerus datang namun keuntungan makin sempit akibat adanya krisis ekonomi yang melanda Asia. Hal ini tampak pada kejadian berikut ini:
1.       Pada bulan Mei 1999, Britsih Airways mengumumkan keuntungan tahunan terendah dari 6 tahun sebelumnya.
2.       Strategi baru yang meliputi keluar secara bertahap dari pesawat Boeing 747 dan menggantinya dengan pesawat yang leboh kecil yaitu  Boeing 777.
3.       Meniadakan atau menghapus rute yang tidak menguntungkan.
4.       Pada bulan Agustus 1999, British Airways mengumumkan untuk memangkas biaya overhead kedua.
5.       Tradisi inovasi dimulai dengan motto “lounges in the sky
6.       Melakukan investasi e-commerce untuk mengngkat penjualan on-line.
7.       Pada awal tahun 2000, hasil kuartal ketiga merupakan suatu campuran informasi di mana omzet menunjukkan naik sebesar 3,2% namun rugi usaha berada pada 2 juta Pounsdtreling.
8.       Harga saham jatuh di bawah 216 Pounsterling dan Ayling menyatakan untuk mengundurkan diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kritik Terhadap Teori Akuntansi Positif

Sebagai teori yang hadir setelah teori normatif, teori akuntansi positif tidak luput dari beberap kritik atas pendekatan yang digunakannya. Berikut beberapa peneliti yang melakukan kritik dan dikelompokkan menjadi 3 kelompok  (Januarti, 2004) yaitu : (1) kritik terhadap filosofi, positif menganut bahwa peneliti berada di luar area penelitian serta memakasimalkan utilitynya. Hal ini tidak mungkin terjadi karena peneliti selalu berada pada area yang ditelitinya dan maksimalitas utility tidak mungkin dicapai hanya sebatas pada kepuasan (Simons dalam Januarti, 2004).  (2) kritik terhadap metodologi, teori positif menganut pendekatan bahwa maksimalisasi keuntungan dapat diperoleh melalui harga keseimbangan pasar. Hal ini tidak mungkin karena penelitian dengan harga keseimbangan pasar sangat sedikit pengaruhnya terhadap kontribusi penelitian akuntansi. (3) kritik terhadap penelitian dengan pendekatan ekonomi, yaitu pemaksimalisasi individu yang tidak mungkin atau tidak mudah ...

Karakteristik Kualitatif Informasi Keuangan Berguna (SFAC 8)

Karakteristik Kualitatif Informasi Keuangan Berguna 3. QC1       QC 1 Karakteristik kualitatif dari informasi keuangan yang berguna adalah untuk mengidentifikasi jenis informasi yang mungkin paling berguna kepada kreditur dan investor yang potensial, serta kreditur lainnya untuk membuat keputusan perusahaan berdasarkan informasi dalam laporan keuangan (informasi keuangan). QC2       QC 2 Laporan keuangan memberikan informasi tentang sumber ekonomi perusahaan, klaim terhadap entitas pelaporan dan efek dari transaksi dan peristiwa, serta kondisi mengenai perubahan sumber daya dan klaim. Selain itu laporan keuangan berisi   tentang harapan manajemen dan strategi untuk entitas pelaporan dan jenis informasi lainnya ke depan. (Informasi ini disebut dalam Kerangka konseptual sebagai informasi tentang fenomena ekonomi.) QC3        QC 3 Karakteristik kualitatif information keuangan berguna...